Pentingnya Kecermatan Data Pelancong di Wilayah 3 Gili Lombok

Pentingnya Kecermatan Data Pelancong di Wilayah 3 Gili Lombok
Potensi pariwisata 3 gili di Lombok Utara (Gili Meno, Air dan Trawangan) atau diketahui dengan nama Gili Matra benar-benar besar. Tapi, ada yang seharusnya diamati. Sebabnya, 3 wilayah tamasya ini juga dekat dengan jalanan petaka gempa bumi sebab berhadapan dengan patahan Naik Flores di komponen utara. Bercermin dari kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di Lombok Utara pada 5 Agustus lalu, terungkap kekurangan pengelolaan di 3 wilayah ini berhubungan pendataan dan kabar petaka yang ada di sana.

Baca : Bali to Gili

Kusnadi, analis petaka geologi, yang konsen pada geo information for spatial planning and disaster risk management menyorot kelemahan pendataan petaka di Gili Matra. “Kita itu terbiasa meremehkan pendataan dan terlalu longgar dalam pengawasan. Turis keluar masuk gili melewati banyak pintu, apakah ada pendataan di tiap pintu hal yang demikian? Ini jadi pertanyaan,” paparnya, Kamis (25/10/2018).

Berdasarkan ia, kecermatan data dan kabar yang dari pihak yang mempunyai otoritas di sana seharusnya memperketat pengawasan dan pendataan di tiap pintu masuk turis, dan perlu mempertimbangkan turis yang datang ke sana tak melebihi energi tampung. Kusnadi mengatakan perlu adanya studi mengenai energi tampung pelancong di 3 gili sebagai pulau kecil yang benar-benar rentan kepada kerusakan alam kalau yang berkegiatan di sana melebihi energi tampung pulau hal yang demikian. “Kita tahu banyak turis yang datang ke gili melewati jalanan Bali, dan pelabuhan-pelabuhan kecil di luar Pelabuhan Bangsal,” kata ia.

Senada dengan itu, Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam FGD Penanganan Gerakan Jurnalisme Ramah Pariwisata di Sari Pan Pacific Hotel, Jakarta, Rabu (24/10/2018), menyuarakan keluhannya berhubungan pencatatan yang tak rapi dalam wilayah pariwisata, seperti dikala terjadinya gempa bumi yang melanda gili-gili di Lombok. “Di data base di suatu destinasi juga nggak baik. Seperti gili diinfokan 1000 saja yang berkeinginan nyebrang melainkan rupanya ada 8381 wisman dan warlok. Mereka terkena hoax gempa dan tsunami yang lebih besar,” kata Sutopo.

Pemerintah sebagai pelindung dan pengayom masyarakat berperanan penting dalam menyediakan dan menyebarkan kabar yang cermat serta mengcounter dengan masif informasi hoax berhubungan petaka. Kecuali itu, perlu adanya upaya pengajaran dan pelatihan bagi warga untuk memahami petaka itu sendiri, seperti gempa bumi yang belum dapat diprediksi kapan akan terjadinya, tapi perlu upaya untuk memitigasi risiko yang akan terjadi.

 

 

 

Artikel lainnya : sewa lighting jakarta